Kamis, 28 Maret 2013

sarana berfikir ilmiah@2r


PENDAHULUAN
A.     Pengantar
Perbedaan utama antara manusia dengan binatang terletak pada kemampuan manusia untuk mengambil suatu jalan  dalam mencapai tujuannya. Seluruh pikiran binatang dipenuhi oleh kebutuhan yang menyebabkan mereka secara langsung mencari dan mengambil objek yang diinginkannya atau membuang benda yang menghalanginya. Dengan demikian sering kita melihat seekor monyet menjangkau  secara sia-sia benda yang dia inginkan sedangkan manusia yang paling primitive sekalipun telah tahu mempergunakan bandingan seperti melempar dengan batu, berburu binatang untuk makan dengan benda-benda atau alat yang telah di tajamkan terlebih dhulu.[1]  Maka dari itu manusia sering disebut sebagai homo Faber: mahluk yang membuat alat; dan kemampuan membuat alat tersebut dimungkinkan oleh pengetahuan. Berkembangnya pengetahuan tersebut  juga memerlukan alat-alat.
Untuk melakukan kegiatan ilmiah seara baik, maka diperlukan sarana berfikir. Tersedianya sarana tersebut memungkinkan dialakukannya penelahan ilmiah secara teratur dan cermt. Penguasaan sarana berfilir ilmiah ini merupakan suatu hal yang bersifat imperratif (member omando) bagi seseorang  ilmuan.  Tanpa menguasai hal ini, maka kegiatan ilmiah yang baik tak dapat dilakukan.
Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus di tempuh. Pada langkah tertentu biasanya diperlukan sarana yang tertentu pula. Oleh sebab itulah maka sebelum kita mempelajari sarana-sarana berfikir ilmiah ini terlebih dahulu kira harus menguasai langkah langkah dalam berfikir ilmiah tersebut. Dengan jaan ini maka kita akan sampai pada hakikat saeana yang sebenarnya, sebab sarana merupakan alat yang membantu kita dakam mencapai suatu tujuan tertentu, atau dengan perkataan lain, sarana ilmiah mempunyi fungsi-fungsi yang khas dalam kaitannya dengan kegiatan ilmiah secara menyeluruh.
Sarana berfikir ilmiah ini, dalam proses pendidikan kita merupakan bidang studi tersendiri. Artinya kita mempelajari  sarana berfikir ilmiah ini sama halnya dengan kita mempelajari berbagai cabang ilmu. Dalam hal ini kita harus memperhatikan dua hal.
 Pertama, sarana berfikir ilmiah bukan merupakan ilmu dalam pengertian bahwa sarana ilmiah itu merupakan kumpulan pengetahuan  yang didapatkan berdasaarkan metode ilmia.  Seperti  diketahui salah satu karakteristik dari ilmu umpamanya adalah penggunaan berfikir induktif dan deduktif dalam mendapatkan pengetahuan.  Saran berfikir ilmiah ini tidak menggunakan metode tersebut dalam mendapatkan pengeahuannya, seara lebih tuntas, bahwa sarana berikir ilmiah mempunyai metode tersendiri dalm mendapatkan pengetahuan yang berbeda dengan metodae ilmiah.
Kedua, tujuan mempelajari sarana berfikir ilmiah adalah untuk memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik, sedangkan tujuan mempelajari ilmu tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan pengetehuan yang memungkinkan kita untuk biasa memecahkan masalah kita dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini, maka saraana berfikir ilmiah merupakan alat bagi cabang-cabang ilmu pengetahuan untuk mengembangkan materi pengtahuannya berdasarakan metode imiah. Atau secara lebih sedarhan, saran berfikir ilmih merupakan alat bagi metode ilmiahuntuk melakukan fungsinya secara baik. Jelaslah sekarang kiranya mengapa sarana berfikir ilmiah mempunya metode tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuannya, sebab fungsi sarana ilmiah adalah membantu proses metodeilmiah dan bukan merupakan ilmu itu sendiri.
Untuk dapat melakukan kegiatan berfikir  ilmiah dengn baik, maka diperlukan sarana yang berupa bahasa, logika, matematika, dan statistika. Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berfikir ilmiah dimana bahasa merupakan alat berfikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan fikiran tersebut kepada orang lain. Ditinjau dari pola berfikirnya maka ilmu merupakan gabungan antara berfikir iduktif dan brfikir deduktif. Untuk itu maka penalaran ilmiah menyadarkan pada diri kepada proses logika deduktif dan logika induktif. Matematika mempunyai peranan yang sangat penting  dalam berfikir deduktif ini  sedangkan statistika mempunyai peranan  penting dalam berfikir induktif. proses pengujian dalam kegiatan ilmiah mengharuskan kita menguasai metode penelitian ilmiah yang pada hakikatnya  merupakan pengumpulan fakta untuk mendukung atau menolak  hipotesis yang diajukan.  Kemampuan berfikir ilmiah yang baik harus didukung oleh penguasaan sarana berfikir dengan baik pula. Salah satu langkah kearah penguasaan itu adalah dengan mengetahui benar peran masing-masing sarana berfikir tersebut dalam keseluruhan proses berfikir ilmiah tersebut.
Berdasarkan pemikiran ini maka tidak sukar untuk dimengerti  mengapa mutu kegiatan keilmuan tidak mencapai taraf yang memuaskan sekiranya sarana berfikir ilmiahnya memang kurang dikuasai.  Bagai mana mungkin seorang bisa melakukan sebuah penalaran  yang cermat  tanpa menguasai struktur bahasa yang tepat? Demikian juga bagai mana seseorang bias melakukan generalisasi tanpamenguasai statistika?  Memang betul tidak semua masalah membutuhkan analisis statistic,  namun hal  ini bukan berarti, bahwa kita tidak peduli kepada statistika sama sekali dan berpaling kepada cara-cara yang justru tidak bersifat ilmiah. Sering kita melakukan rasionalisasi untuk membela kekurangan kita atau bahkan kompensasi  seperti yang dikatakan Kemeny, dengan menggunakan kata-kata muluk untuk mtnutupi ketidaktahuan.[2]  Untuk seorang tirn maka dalih apapu jadilah, menurut dongeng Aesop tentang serigala dan anak domba, dan memang tidak ada penalaran yang lebih muda selain berdalih untuk tiran yang bernama kebodohan. [3]
PEMBAHASAN
B.     Sarana berfikir imiah
Dalam aktivitas keseharian kita, kita berakti vitas dakam lingkungan kita masing-masing, dapt di pastikan bahwa kita tidakpernah lepas dari yang namanya berfikir, hanya saja memang tingkat daya berfikir setiap orang memang bebeda-beda, erfikir dapat pula dikatakakn sebagai beraktifitas yang sangat penting. Karena tanpa berfikir,  manusia akan berada dalam keadaan gelap gulita dan hampa. Manusia tidak akan mampu mengenali lingkungan di sekitarnya, baik itu dimana dia tinggal, siapa pencipta ala mini, siapa saja di sekelilingnya, bahkan bias jadi diapun tidak akan dapat menganali dirinyasendiri dan hakikat keberagdaannya lahir keduania ini tanpa melalui aktivitas berfikir.
Berfikir juga dapa dikatakan sesuatu yang alamiyah (fitrah  atau natural) bagi setiap manusia yang sehat tidak gila, itu semua dikarenakan adanya unsur-unsur yang  ada pada diri manusia yang diciptakan Allah SWT. Diantara unsur tersebut ialah
-          Otak yang sehat
-          Panca indra
-           Informasi sebelumnya
-          Dan adanya fakta
Dari 4 unsur diatas, Muhammad Adib dalam bukunya yg berjudul ‘’Filsafat Ilmu’’ meramgkai definisi sebagai berikut: ‘’pemindahan pengindraan terhadap fakta  melalui panca indra kedalam otak yang di sertai adanya informasi-informasi terdahulu yang digunakan untuk mrnafsirkan fakta-fakta tersebut.’’ Definisi  ini juga merupakan  dafinisi bagi akal, pemikliran, dan proses berfikir.[4]
Apakah sebenarnya berfikir?  Maka secara umum maka tiap proses dalam idea,  konsep dan sebagainya disebut berfikir. Umpamanya jika seseorang bertanya mungkin saya menjawab, ‘’ saya sedang memikirakan keluaraga saya.’’ Hal ini berarti bayangan kenagan dan sebagainya, hadir dan ikut mengikuti dalam kesadaran saya. Karena itu maka definisi yang paling umum dari berfikir adalah prose side dan konsep.
Dari penjelasan singkat dia atas, kami akan memaparkan tentang sarana-sarana yang harus dikuasai terlebih dahullu untuk mencapai penelitian yang baik, berstruktur, dan dapat di pertanggung jawabkan serta mempermudah penelitian dengan hasil yang sesui apa yang di harapkan. Adapun sarana-sarana tersebut adalah sebagai berikut:

1.      BAHASA
            Keunikan manusia bukanlah terletak pada kemampuannya berfikir melainkan terletak pada kemampuannya berbahasa. Oleh karena itu, Ernest menyebut manusia sebagai Animal Symbolycum, yaitu makhluk yang mempergunakan simbol. Secara generik istilah ini mempunyai cakupan yang lebih luas dari istilah homo sapiens, sebab dalam kegiatan berfikir manusia mempergunakan simbol. Bahasa sebagai sarana komunikasi antar manusia, tanpa bahasa tiada komunikasi. Tanpa komunikasi apakah manusia dapat bersosialisasi, dan apakah manusia layak disebut sebagai makhluk sosial? Sebagai sarana komunikasi maka segala yang berkaitan dengan komunikasi tidak terlepas dari bahasa, seperti berfikir sistematis dalam menggapai ilmu dan pengetahuan. Dengan kata lain, tanpa mempunyai kemampuan berbahasa, seseorang tidak dapat melakukan kegiatan berfikir sebagai secara sistematis dan teratur. Dengan kemampuan kebahasaan akan terbentang luas cakrawala berfikir seseorang dan tiada batas dunia baginya.
            Bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran seluruh proses berpikir ilmiah. Yang dimaksud bahasa disini ialah bahasa ilmiah yang merupakan sarana komunikasi ilmiah yang ditujukan untuk menyampaikan informasi yang berupa pengetahuan, syarat-syarat: bebas dari unsur emotif, reproduktif, obyektif dan eksplisit.
Didalm buku  Amsal Bahtiar yang berjdul ‘’Filsafat ilmu’’  fungsi bahasa secara umum ada 5 yaitu:[5]
a.       Coordinator kegiatan-kegiatan masyarakat.
b.      Penetapan pemikiran dan pengungkapan
c.       Penyampaian pemikiran dan perasaan
d.      Penyenagan jiwa
e.       Pengurangan kegoncangan jiwa

Bahasa sebagai sarana berfikir ilmiah
Untuk dapat berfikir ilmiah, seseorang sudah selayaknya menguasai kreteria maupun langkah-langkah yang ada di dalam kegiatan ilmiah. Dngan menguasai hal tersebut maka tujuan yang ingin di caai akan terwujud. Disamping menguasai langkah-langkah tentnya kegiatan ini di bntu oleh sarana yang berupa bahasa, matematika, statistika dan logika.
Ketika bahasa disifatkan dengan ilmiah, fungsinya untuk komunikasi di sifatkan dengan ilmiah juga, yakni komunikasi ilmiah. Komunikasi ilmiah ini merupakan proded penyampaian infornmasi berupa pengetahuan . untk mencapai komunikasi lmiah , maka bahasa yang di gunakan harus terbebas dari unsure emotif.
Di samping itu bahasa lmiah juga harus bersifat refroduktif, dengan arti jika si pengirim komunikasi menyampikan suatu informasi berupa ‘’x’’  misalnya, maka si pendengar juga harus menerima ‘’x’’ juga,  halini di maksudkan untuk tidak terjadi kesalahan dalam penyampaian informasi, dimana suatu informasi yang berbeda maka proses berfikirnya juga akan berbeda pula.

2.      Matematika
Dalam abad ke-20 ini, seluruh kehidupan manusia sudah mempergunakan matematika, baik matematika ini sangat sederhanahanya untuk menghitung , satu, dua, tiga, maupun yang sampai sangat rumit, misalnya perhitungan antariksa.
Matematika sebagai bahasa
Matematiaka adaah bahasa yang melambangkan derangkaian makna, dari pernyataan yanga ingin kita sampaikan. Lambing-lambanga matematika bersifat ‘’artifisial’’ yang baru memiliki arti setelah sebuah makna diberikan kepadanya. Tanpa itu maka matika hanya berupa kumpulan rumus-rumus yang mati[6]
Matematiaka merupakan ilmu deduktif,  nama ilmu deduktif di peroleh karena  penyelesian masalah-masalah yang di hadapi tidak di dasari atas pengalaman seperti hslnya ilmu-ilmu yang  empiric,  melainkan didasarkan atas deduksi-deduksi (penjabaran-penjabaran). Bagaimana orang secara tepat mengetahui cirri-ciri deduksi, merupakan suatu masalah pokok yang dihadapi filsafat ilmu. Dewasa ini pendirian yang palng banyajk di anut orang bahwa deduksi ialah penalaran yang sesuai dengan hokum-hukum serta aturan- logika formal,  dalam hal ini orang menganggp tifdaklah mungkin titik tolak yang benar menghasilkan kesimpulan yang tidak benar.[7]
Matematika merupakan pengetahuan dan sarana berfikir deduktif, bahasa yang digunakan adalah bahasa buatan artificial, keistimewaan bahasa ini ialah terbebas dari aspek emotif dan efektif, serta jelas kelihatan bentuk hubungannya. Matematika lebih mementingkan bentuk logisnya  pernyataan-pernyataannya besifat jelas,  pola berfikir deduktif banyak digunakan  baik dalam bidang ilmiah maupun dalam bidang lain, yang merupakan proses pengambilan kesimpulan yang didasarkan  kepada premis premis yang kebenarannya sudah dapat di tentukan, misalnya jika diketahui A termasuk dalm lingkaran B,  sedangkan B tidak ada hubungannya dengan C,  maka A tidak ada hubungannya dgn C.[8]

3.      STATISTIK
Pengertian statistik
            Secara etimologi, kata statistic berasal dari bahasa latin status dalam bahasa inggris state yg berarti Negara dalam bahasa Indonesia. Awalnya statitik digunakan untuk dibutuhkan untuk keterangan suatu ngara. Namun dewasa ini banyak sekalii ilmuan yang mengartikannya dengan bebagai macam pengertian  yang kurang lebih apabila di simpulkan sebagai berikut.
            Statistik adalah ilmu engetahuan yang membahas dan mempelajari dan memperkembangkan prinsip-prinsip metode dan prosedur yang perlu ditempuh atu di pergunakan dalam rangka: 1. Pengumpulan data angka, 2. Penyusun atau pengaturan data angka, 3.  Penyjian atau penggambaran data angka, 4. Penganalisisan terhadap data ngka 5. Penarikan kesimpulan, 6. Pembuat perkiraan 7. Penyusunan ramalan secara ilmiah/matematik,  atas dasar pengumpulan data angka tersebut.
            Dalam kamus ilmiah popular,  kata statistic berarti table, grafik, dafatr informasi,  angka-angka, informasi.  Sedangkan kata statistika berarti ilmu tentang pengumpulan, analisis dan klasifikasi data angka sebagai dasar untuk induksi.[9] 
            Jadi statistika merupakan sekumpulan metode untuk membuat suatu keputusan yang bijaksana dalam keadaan yang tidak mnentu.
Peran statistika
            Statistika bukan merupakan sekumpulan  pengetahuan mengenai objek tertentu, melainkan merupakan sekumpulan metode dalam memperoleh pengetahuan.
Penerapan statistika
            Statistika biasanya d terapkan dalam penelitian pasar,produksi, kebijaksanaan penanaman modal,  control kualitas, sleksi pegawai, ramalan ekonomi, dan masih banyak lagi yang lainnya. Contoh  tentang berbagai penerapan statistika diatas tidak mencakup semua hal, namun semoga contoh tersebut dapat memberikan gambaran mengenai kemungkinan berbagai penerapan  dari metode dan konsep statistika. Singkatnya statistika adalah alat yang dapat digunakan  untuk memecahkan masalah yang timbul dalam penelaahan masalah secara empiris hampir disemua bidang.[10]

4.      LOGIKA
            Logika berasal dari kata Yunani kuno (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Sebagai ilmu, logika disebut dengan logike episteme (Latin: logica scientia) atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur. Ilmu disini mengacu pada kemampuan rasional untuk mengetahui dan kecakapan mengacu pada kesanggupan akal budi untuk mewujudkan pengetahuan ke dalam tindakan. Kata logis yang dipergunakan tersebut bisa juga diartikan dengan masuk akal.
            Nama ‘logika’ untuk pertama kali muncul pada filsuf Cicero (abad ke-1 sebelum masehi), tetapi masih dalam arti ‘seni berdebat’. Alexander Aphrodisias (sekitar permulaan abad ke-3 sesudah masehi) adalah orang yang pertama kali menggunakan kata ‘logika’ dalam arti ilmu yang menyelidiki lurus tidaknya pemikiran kita.
            Logika adalah sarana untuk berfikir secara sistematis valid dan dapt di pertnggung  jawbkan. Karena itu berfikirlogis adalah berfikir sesuai dengan aturan-aaturan berfikir, seperti setengah tidak boleh lebih besar dari pada satu.
            Memang sebagai perlengkapan ontologisme, pikiran kita dapat bekerja secara spontan, alami , dan dapat menyelesaikan fungsinya dengan baik, lebih-lebih dalah hal yang biasa dan sederhana dan jelas. Namun , tidak demikian halnya bila menghadapi bahan yang sulit,  berliku-liku dan harus memrlukan pemikiran panjang dan sulit sebelum mencapai sebuh kesimpulan. Nah, dalam situasi seperti ini diperlukn danya ang formal, pengertian yang sadar akan hokum-hukumnya, dan mekanismenya secara eksplisit. Maksudnya hokum-hukum fikiran dapat digunakan beserta mekanisme dapat digunakan secara sadar dalam mengontrol pikiran yang sulit dan panjang itu.
Macam-macam logika:
            Logika alamiah adalah kinerja akal budi manusia yang berpikir secara tepat dan lurus sebelum dipengaruhi oleh keinginan-keinginan dan kecenderungan-kecenderungan yang subyektif. Kemampuan logika alamiah manusia ada sejak lahir. 
             Logika ilmiah memperhalus, mempertajam pikiran serta akal budi. Logika ilmiah menjadi ilmu khusus yang merumuskan azas-azas yang harus ditepati dalam setiap pemikiran. Berkat pertolongan logika ilmiah inilah akal budi dapat bekerja dengan lebih tepat, lebih teliti, lebih mudah dan lebih aman. Logika ilmiah dimaksudkan untuk menghindarkan kesesatan atau, paling tidak, dikurangi.
Cara-cara berfikir logis dalam rangka mendapatkan pengetahuan baru yang benar:
            Induksi adalah cara berfikir untuk menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual. Penalaran ini diawali dari kenyataan-kenyataan yang bersifat khusus dan terbatas lalu diakhiri dengan pernyataan yang  bersifat umum.
Deduksi adalah cara berfikir dari pernyataan yang  bersifat umum menuju ke kesimpulan yang bersifat khusus, dengan demikian kegiatan berfikir yang berlawanan dengan induksi.
Analogi adalah cara berfikir dengan cara membuktikan dengan hal yang serupa dan sudah diketahui sebelumnya. Disini penyimpulan dilakukan secara tidak langsung, tetapi dicari suatu media atau penghubung yang mempunyai persamaan dan keserupaan dengan apa yang akan dibuktikan.
Komparasi adalah cara berfikir dengan cara membandingkan dengan sesuatu yang mempunyai kesamaan apa yang dipikirkan. Dasar pemikiran ini sama dengan analogi yaitu tidak langsung, tetapi penekanan pemikirannya ditujukan pada kesepadanan bukan pada perbedaannya.
Kegunaan logika 
-    Membantu setiap orang yang mempelajari logika untuk berpikir secara rasional, kritis, lurus, tetap, tertib, metodis dan koheren.
-    Meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat, dan objektif.
-    Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan mandiri. 
-    Memaksa dan mendorong orang untuk berpikir sendiri dengan menggunakan asas-asas sistematis

C.     Hubungan antara sarana ilmiah bahasa,  matematika, statistika, dan logika       
Sebagaimana telah di bahas sebelumnya,  agar dapat melkukan kegiatan ilmiah dengan baik,  maka diperlukan sarana yang berupa bahasa, matematika logika dan statistika. Bahsa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berfikir ilmiah dimana bahasa merupakan alat  berfikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan fikiran tersebut kepada orang lain.[11][12]
Ditinjau dari pola berfikirnya , maka ilmiah merupakan gabungan antara berfikir deduktif dan berfikir induktif. Untuk itu, penalaran ilmiah menyadarkan diri kepada proses logika deduktif dan logika induktif. Matematika mempunyai peranan penting dalam berfikir deduktif, sedangkan statistika mempunyai peranan penting dalam berfikir induktif.[13]  Jadi keempat sarana ilmiah ini saling berhubungan erat satu sama lain.
Bahasa merupakan sarana komunikasi, maka segala sesuatu yang berkaitan dengan komunikasi tidak terlepas dari bahasa, seperti berfikir sistematis dalam menggapai ilmu dan pengetahuan.  Dengan kata lain tanpa menpunyai keterampilan berbahasa, maka seseorang tidak dapat melakukan kegiatan ilmiah secara sistematis dan teratur.
Penalaran merupakan suatu proses berfikir yang mebuahkan pengetahuan. Agar pengetahuan yang berdasarkan penalaran itu mempunyai dasar kebenaran, maka proses berfikir itu harus di lakukan dengan cara tertentu. Suatu peanrikan kesimpulan baru dianggap valid kalau proses penarikan kesimpulan tersebut dilakukan menurut cara tertentu. Cara penarikan kesimpulan ini disebut logika, dimana logika dapat didefinisikan sebgai pengkajian untuk berfikir secara sahih. Terdapat bermacam-macam cara penarikan kesimpulan, diantaranya penarikan kesimpulan dengan cara logika induktif dan logika deduktif. Logika induktif erat kaitannya dengan kasus kasus yang nyata menjadi kesimpulan umum. Sedangkan logika deduktif membantu kita  dalam menarik suatu kesimpulan yang bersifat umum menjadi khusus yang bersifat indifidual.[14]
Penalaran secara  deduktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang terbatas untuk menyusun argumentasi  yang di akhiri dengan pernyataan yang bersifat umum.  Umpamanya kita mempunyai fakta bahwa kerbau mempunyai mata, gajah mempunyai mata harimau mempunyai mata, lembu memnyai mata. Dari kenytaan-kenyataan di atas kita dapat  menarik kesimpulan yang bersifat umum bhwa semua binatang mempunyai mata. Ada dua keuntungan dari kesimpuln ini. Pertama,  bersifat ekonomis. Dan keuntungan yang kedua, adalah memungkinkannya proses penalaran baik secara indukstif maupun deduktif. Statistika mempunyai peranan yang penting dalam berfikir induktif tersebut.
Deduksi adalah sebliknya, dimana pernyataan-prnyataan yang bersfat umum ditarik kesimpilan yang bersifat khusus, menggunakan pola fikir yang di sebut silogisismus. Pernyataanyang mendukung silogismus ini dinamakan premis yang kemudian dibedakan menjadi premis mayor dan premis minor. Contohya semua mahluk mempunyai mata(premis mayor) si polan adalah seorang mahluk (premis minor) jadi si polan mempunyai mata (kesimpulan). Kesimpuan ni di tarik secara logis dari dua premis yang mendukungnya. Matematiaka adalah pengetahuan yang di susun secara  deduktif. Mtematik juga merupkan suatu bahasa yang melmbangkan serangkaian  makna dari pernyataan yang ingin di sampaikan.
PENUTUP
           1. Berfikir merupakan ciri utama bagi manusia. Berfikir disebut juga sebagai proses bekerjanya akal. Secara garis besar berfikir dapat dibedakan antara berfikir alamiah dan berfikir ilmiah. Berfikir alamiah adalah pola penalaran yang berdasarkan kehidupan sehari-hari dari pengaruh alam sekelilingnya. Berfikir ilmiah adalah pola penalaran berdasarkan sarana tertentu secara teratur dan cermat.
2. Bagi seorang ilmuan penguasaan sarana berfikir ilmiah merupakan suatu keharusan, karena tanpa adanya penguasaan sarana ilmiah, maka tidak akan dapat melaksanakan kegiatan ilmiah dengan baik. Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat untuk membantu kegiatan ilmiah dengan berbagai langkah yang harus ditempuh.
3. Sarana berfikir ilmiah pada dasarnya ada tiga, yaitu : Bahasa ilmiah, Logika dan Matematika, Logika dan Statistika. Bahasa ilmiah berfungsi sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan jalan fikiran seluruh proses berfikir ilmiah. Logika dan matematika mempunyai peranan penting dalam berfikir deduktif sehingga mudah diikuti dan mudah dilacak kembali kebenarannya. Sedang logika dan statistika mempunyai peranan penting dalam berfikir induktif dan mencari konsep-konsep yang berlaku umum. Namun dizaman sekarang komputer jaga bisa dimasukan sebagai sarana berfikir ilmiah, karena dalam komputer semua ada, dan apa yang kita inginkan hmapir seluruhnya dapat dijawab oleh komputer.
Daftar pustaka

Bakhtiar Amsal, ‘’filsafat Ilmu’’, PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta:2011)
Jujun suriansumantri, ‘’ Pilsafat ilmu sebuah pengantar populer’’ Pustaka Sinar Harapan, Jakarta:2010).
John G.Kemeny, A Philosoper Looks at Saince (New York:  van Nostrand, 1959).

Mohammad Adib, ‘’filsafat Ilmu’’ pustaka Pelajar : 2011.

Burhanuddin salam, ‘’logika materi filsafat ilmu pengetahuan’’ Jakarta: PT. Rineka Cipta. 1997).

Beerling, Pengantar ilmu Filsafat’’ (Ttp, Tiara Wacana, 1998).

Tim dosen Filsafat Ilmu UGM, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Liberty Yogyakarta,tth).

Anas Sudijono, Pengantar Statistik Pndidikan’’( Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1996).

Phillip E.B. Jourdain, the nature Of Matematics’’ The World of Matematics : Vol. ed. by Jams R. Newman (New York : Simon & Schutter,1956).

Warisman, edy. N.W. ‘’Filsafat Induk Segala Ilmu, copas from Internet wara'’’ ( dema press, Makassar: 1993 )



[1] Phillip E.B. Jourdain, the nature Of Matematics’’ The World of Matematics : Vol. ed. by Jams R. Newman (New York : Simon & Schutter,1956), h.9.
[2] John G.Kemeny, A Philosoper Looks at Saince (New York:  van Nostrand, 1959), h.10.
[3] Jujun suriansumantri, ‘’ Pilsafat ilmu sebuah pengantar populer’’ Pustaka Sinar Harapan, Jakarta:2010, h.169.
[4] Mohammad Adib, ‘’filsafat Ilmu’’ pustaka Pelajar : 2011, h.131
[5] Bakhtiar Amsal, ‘’filsafat Ilmu’’, PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta:2011) h.180.
[6] Burhanuddin salam, ‘’logika materi filsafat ilmu pengetahuan’’ Jakarta: PT. Rineka Cipta. 1997) h.133-134
[7] Beerling, Pengantar ilmu Filsafat’’ (Ttp, Tiara Wacana, 1998) h.23.
[8] Tim dosen Filsafat Ilmu UGM, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Liberty Yogyakarta,tth), h.78.
[9] Anas Sudijono, Pengantar Statistik Pndidikan’’( Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1996), h.2-4.
[10] Bakhtiar Amsal, ‘’filsafat Ilmu’’, PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta:2011) h.212
[11]  Jujun suriansumantri, ‘’ Pilsafat ilmu sebuah pengantar populer’’ Pustaka Sinar Harapan, Jakarta:2010,
[12] Ibid h.167
[13] ibid
[14] Ibid, h.46-48.

1 komentar:

  1. mas cakep.., blog utamanya yg mana sh?, soalx bingung mau komen di blog yg mana?, salam kenal *smile

    BalasHapus