PENDAHULUAN
A.
Pengantar
Perbedaan utama
antara manusia dengan binatang terletak pada kemampuan manusia untuk mengambil
suatu jalan dalam mencapai tujuannya. Seluruh
pikiran binatang dipenuhi oleh kebutuhan yang menyebabkan mereka secara
langsung mencari dan mengambil objek yang diinginkannya atau membuang benda
yang menghalanginya. Dengan demikian sering kita melihat seekor monyet
menjangkau secara sia-sia benda yang dia
inginkan sedangkan manusia yang paling primitive sekalipun telah tahu mempergunakan
bandingan seperti melempar dengan batu, berburu binatang untuk makan dengan
benda-benda atau alat yang telah di tajamkan terlebih dhulu.[1] Maka dari itu manusia sering disebut sebagai
homo Faber: mahluk yang membuat alat; dan kemampuan membuat alat tersebut
dimungkinkan oleh pengetahuan. Berkembangnya pengetahuan tersebut juga memerlukan alat-alat.
Untuk melakukan
kegiatan ilmiah seara baik, maka diperlukan sarana berfikir. Tersedianya sarana
tersebut memungkinkan dialakukannya penelahan ilmiah secara teratur dan cermt.
Penguasaan sarana berfilir ilmiah ini merupakan suatu hal yang bersifat
imperratif (member omando) bagi seseorang
ilmuan. Tanpa menguasai hal ini,
maka kegiatan ilmiah yang baik tak dapat dilakukan.
Sarana ilmiah
pada dasarnya merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai
langkah yang harus di tempuh. Pada langkah tertentu biasanya diperlukan sarana
yang tertentu pula. Oleh sebab itulah maka sebelum kita mempelajari
sarana-sarana berfikir ilmiah ini terlebih dahulu kira harus menguasai langkah
langkah dalam berfikir ilmiah tersebut. Dengan jaan ini maka kita akan sampai
pada hakikat saeana yang sebenarnya, sebab sarana merupakan alat yang membantu
kita dakam mencapai suatu tujuan tertentu, atau dengan perkataan lain, sarana
ilmiah mempunyi fungsi-fungsi yang khas dalam kaitannya dengan kegiatan ilmiah
secara menyeluruh.
Sarana berfikir
ilmiah ini, dalam proses pendidikan kita merupakan bidang studi tersendiri.
Artinya kita mempelajari sarana berfikir
ilmiah ini sama halnya dengan kita mempelajari berbagai cabang ilmu. Dalam hal
ini kita harus memperhatikan dua hal.
Pertama, sarana berfikir ilmiah
bukan merupakan ilmu dalam pengertian bahwa sarana ilmiah itu merupakan
kumpulan pengetahuan yang didapatkan
berdasaarkan metode ilmia. Seperti diketahui salah satu karakteristik dari ilmu
umpamanya adalah penggunaan berfikir induktif dan deduktif dalam mendapatkan
pengetahuan. Saran berfikir ilmiah ini
tidak menggunakan metode tersebut dalam mendapatkan pengeahuannya, seara lebih
tuntas, bahwa sarana berikir ilmiah mempunyai metode tersendiri dalm
mendapatkan pengetahuan yang berbeda dengan metodae ilmiah.
Kedua, tujuan mempelajari sarana berfikir ilmiah adalah untuk
memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik, sedangkan tujuan
mempelajari ilmu tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan pengetehuan yang
memungkinkan kita untuk biasa memecahkan masalah kita dalam kehidupan
sehari-hari. Dalam hal ini, maka saraana berfikir ilmiah merupakan alat bagi
cabang-cabang ilmu pengetahuan untuk mengembangkan materi pengtahuannya
berdasarakan metode imiah. Atau secara lebih sedarhan, saran berfikir ilmih
merupakan alat bagi metode ilmiahuntuk melakukan fungsinya secara baik. Jelaslah
sekarang kiranya mengapa sarana berfikir ilmiah mempunya metode tersendiri yang
berbeda dengan metode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuannya, sebab fungsi sarana
ilmiah adalah membantu proses metodeilmiah dan bukan merupakan ilmu itu
sendiri.
Untuk dapat
melakukan kegiatan berfikir ilmiah dengn
baik, maka diperlukan sarana yang berupa bahasa, logika, matematika, dan
statistika. Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh
proses berfikir ilmiah dimana bahasa merupakan alat berfikir dan alat
komunikasi untuk menyampaikan jalan fikiran tersebut kepada orang lain.
Ditinjau dari pola berfikirnya maka ilmu merupakan gabungan antara berfikir
iduktif dan brfikir deduktif. Untuk itu maka penalaran ilmiah menyadarkan pada
diri kepada proses logika deduktif dan logika induktif. Matematika mempunyai
peranan yang sangat penting dalam
berfikir deduktif ini sedangkan statistika
mempunyai peranan penting dalam berfikir
induktif. proses pengujian dalam kegiatan ilmiah mengharuskan kita menguasai
metode penelitian ilmiah yang pada hakikatnya
merupakan pengumpulan fakta untuk mendukung atau menolak hipotesis yang diajukan. Kemampuan berfikir ilmiah yang baik harus
didukung oleh penguasaan sarana berfikir dengan baik pula. Salah satu langkah
kearah penguasaan itu adalah dengan mengetahui benar peran masing-masing sarana
berfikir tersebut dalam keseluruhan proses berfikir ilmiah tersebut.
Berdasarkan
pemikiran ini maka tidak sukar untuk dimengerti
mengapa mutu kegiatan keilmuan tidak mencapai taraf yang memuaskan
sekiranya sarana berfikir ilmiahnya memang kurang dikuasai. Bagai mana mungkin seorang bisa melakukan
sebuah penalaran yang cermat tanpa menguasai struktur bahasa yang tepat? Demikian
juga bagai mana seseorang bias melakukan generalisasi tanpamenguasai
statistika? Memang betul tidak semua
masalah membutuhkan analisis statistic,
namun hal ini bukan berarti,
bahwa kita tidak peduli kepada statistika sama sekali dan berpaling kepada cara-cara
yang justru tidak bersifat ilmiah. Sering kita melakukan rasionalisasi untuk
membela kekurangan kita atau bahkan kompensasi
seperti yang dikatakan Kemeny, dengan menggunakan kata-kata muluk untuk
mtnutupi ketidaktahuan.[2] Untuk seorang tirn maka dalih apapu jadilah,
menurut dongeng Aesop tentang serigala dan anak domba, dan memang tidak ada
penalaran yang lebih muda selain berdalih untuk tiran yang bernama kebodohan. [3]
PEMBAHASAN
B.
Sarana berfikir imiah
Dalam
aktivitas keseharian kita, kita berakti vitas dakam lingkungan kita
masing-masing, dapt di pastikan bahwa kita tidakpernah lepas dari yang namanya
berfikir, hanya saja memang tingkat daya berfikir setiap orang memang
bebeda-beda, erfikir dapat pula dikatakakn sebagai beraktifitas yang sangat
penting. Karena tanpa berfikir, manusia akan
berada dalam keadaan gelap gulita dan hampa. Manusia tidak akan mampu mengenali
lingkungan di sekitarnya, baik itu dimana dia tinggal, siapa pencipta ala mini,
siapa saja di sekelilingnya, bahkan bias jadi diapun tidak akan dapat menganali
dirinyasendiri dan hakikat keberagdaannya lahir keduania ini tanpa melalui
aktivitas berfikir.
Berfikir
juga dapa dikatakan sesuatu yang alamiyah (fitrah atau natural) bagi setiap manusia yang sehat
tidak gila, itu semua dikarenakan adanya unsur-unsur yang ada pada diri manusia yang diciptakan Allah
SWT. Diantara unsur tersebut ialah
-
Otak
yang sehat
-
Panca
indra
-
Informasi sebelumnya
-
Dan
adanya fakta
Dari
4 unsur diatas, Muhammad Adib dalam bukunya yg berjudul ‘’Filsafat Ilmu’’ meramgkai
definisi sebagai berikut: ‘’pemindahan pengindraan terhadap fakta melalui panca indra kedalam otak yang di
sertai adanya informasi-informasi terdahulu yang digunakan untuk mrnafsirkan
fakta-fakta tersebut.’’ Definisi ini
juga merupakan dafinisi bagi akal,
pemikliran, dan proses berfikir.[4]
Apakah
sebenarnya berfikir? Maka secara umum maka
tiap proses dalam idea, konsep dan
sebagainya disebut berfikir. Umpamanya jika seseorang bertanya mungkin saya
menjawab, ‘’ saya sedang memikirakan keluaraga saya.’’ Hal ini berarti bayangan
kenagan dan sebagainya, hadir dan ikut mengikuti dalam kesadaran saya. Karena
itu maka definisi yang paling umum dari berfikir adalah prose side dan konsep.
Dari
penjelasan singkat dia atas, kami akan memaparkan tentang sarana-sarana yang
harus dikuasai terlebih dahullu untuk mencapai penelitian yang baik,
berstruktur, dan dapat di pertanggung jawabkan serta mempermudah penelitian
dengan hasil yang sesui apa yang di harapkan. Adapun sarana-sarana tersebut
adalah sebagai berikut:
1. BAHASA
Keunikan manusia bukanlah terletak
pada kemampuannya berfikir melainkan terletak pada kemampuannya berbahasa. Oleh
karena itu, Ernest menyebut manusia sebagai Animal Symbolycum, yaitu makhluk
yang mempergunakan simbol. Secara generik istilah ini mempunyai cakupan yang
lebih luas dari istilah homo sapiens, sebab dalam kegiatan berfikir manusia
mempergunakan simbol. Bahasa sebagai sarana komunikasi antar manusia, tanpa
bahasa tiada komunikasi. Tanpa komunikasi apakah manusia dapat bersosialisasi,
dan apakah manusia layak disebut sebagai makhluk sosial? Sebagai sarana
komunikasi maka segala yang berkaitan dengan komunikasi tidak terlepas dari
bahasa, seperti berfikir sistematis dalam menggapai ilmu dan pengetahuan.
Dengan kata lain, tanpa mempunyai kemampuan berbahasa, seseorang tidak dapat
melakukan kegiatan berfikir sebagai secara sistematis dan teratur. Dengan
kemampuan kebahasaan akan terbentang luas cakrawala berfikir seseorang dan
tiada batas dunia baginya.
Bahasa berfungsi sebagai alat
komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran seluruh proses berpikir ilmiah.
Yang dimaksud bahasa disini ialah bahasa ilmiah yang merupakan sarana
komunikasi ilmiah yang ditujukan untuk menyampaikan informasi yang berupa
pengetahuan, syarat-syarat: bebas dari unsur emotif, reproduktif, obyektif dan
eksplisit.
Didalm buku
Amsal Bahtiar yang berjdul ‘’Filsafat ilmu’’ fungsi bahasa secara umum ada 5 yaitu:[5]
a. Coordinator kegiatan-kegiatan masyarakat.
b. Penetapan pemikiran dan pengungkapan
c. Penyampaian pemikiran dan perasaan
d. Penyenagan jiwa
e. Pengurangan kegoncangan jiwa
Bahasa sebagai sarana
berfikir ilmiah
Untuk dapat berfikir
ilmiah, seseorang sudah selayaknya menguasai kreteria maupun langkah-langkah
yang ada di dalam kegiatan ilmiah. Dngan menguasai hal tersebut maka tujuan
yang ingin di caai akan terwujud. Disamping menguasai langkah-langkah tentnya
kegiatan ini di bntu oleh sarana yang berupa bahasa, matematika, statistika dan
logika.
Ketika bahasa
disifatkan dengan ilmiah, fungsinya untuk komunikasi di sifatkan dengan ilmiah
juga, yakni komunikasi ilmiah. Komunikasi ilmiah ini merupakan proded
penyampaian infornmasi berupa pengetahuan . untk mencapai komunikasi lmiah ,
maka bahasa yang di gunakan harus terbebas dari unsure emotif.
Di samping itu bahasa
lmiah juga harus bersifat refroduktif, dengan arti jika si pengirim komunikasi
menyampikan suatu informasi berupa ‘’x’’ misalnya, maka si pendengar juga harus
menerima ‘’x’’ juga, halini di maksudkan
untuk tidak terjadi kesalahan dalam penyampaian informasi, dimana suatu
informasi yang berbeda maka proses berfikirnya juga akan berbeda pula.
2. Matematika
Dalam abad ke-20 ini,
seluruh kehidupan manusia sudah mempergunakan matematika, baik matematika ini
sangat sederhanahanya untuk menghitung , satu, dua, tiga, maupun yang sampai
sangat rumit, misalnya perhitungan antariksa.
Matematika sebagai
bahasa
Matematiaka adaah
bahasa yang melambangkan derangkaian makna, dari pernyataan yanga ingin kita
sampaikan. Lambing-lambanga matematika bersifat ‘’artifisial’’ yang baru
memiliki arti setelah sebuah makna diberikan kepadanya. Tanpa itu maka matika
hanya berupa kumpulan rumus-rumus yang mati[6]
Matematiaka merupakan
ilmu deduktif, nama ilmu deduktif di
peroleh karena penyelesian
masalah-masalah yang di hadapi tidak di dasari atas pengalaman seperti hslnya
ilmu-ilmu yang empiric, melainkan didasarkan atas deduksi-deduksi
(penjabaran-penjabaran). Bagaimana orang secara tepat mengetahui cirri-ciri
deduksi, merupakan suatu masalah pokok yang dihadapi filsafat ilmu. Dewasa ini
pendirian yang palng banyajk di anut orang bahwa deduksi ialah penalaran yang
sesuai dengan hokum-hukum serta aturan- logika formal, dalam hal ini orang menganggp tifdaklah
mungkin titik tolak yang benar menghasilkan kesimpulan yang tidak benar.[7]
Matematika merupakan
pengetahuan dan sarana berfikir deduktif, bahasa yang digunakan adalah bahasa
buatan artificial, keistimewaan bahasa ini ialah terbebas dari aspek emotif dan
efektif, serta jelas kelihatan bentuk hubungannya. Matematika lebih
mementingkan bentuk logisnya
pernyataan-pernyataannya besifat jelas,
pola berfikir deduktif banyak digunakan
baik dalam bidang ilmiah maupun dalam bidang lain, yang merupakan proses
pengambilan kesimpulan yang didasarkan
kepada premis premis yang kebenarannya sudah dapat di tentukan, misalnya
jika diketahui A termasuk dalm lingkaran B,
sedangkan B tidak ada hubungannya dengan C, maka A tidak ada hubungannya dgn C.[8]
3.
STATISTIK
Pengertian statistik
Secara etimologi, kata statistic
berasal dari bahasa latin status dalam bahasa inggris state yg berarti Negara
dalam bahasa Indonesia. Awalnya statitik digunakan untuk dibutuhkan untuk
keterangan suatu ngara. Namun dewasa ini banyak sekalii ilmuan yang
mengartikannya dengan bebagai macam pengertian
yang kurang lebih apabila di simpulkan sebagai berikut.
Statistik adalah ilmu engetahuan yang
membahas dan mempelajari dan memperkembangkan prinsip-prinsip metode dan
prosedur yang perlu ditempuh atu di pergunakan dalam rangka: 1. Pengumpulan
data angka, 2. Penyusun atau pengaturan data angka, 3. Penyjian atau penggambaran data angka, 4.
Penganalisisan terhadap data ngka 5. Penarikan kesimpulan, 6. Pembuat perkiraan
7. Penyusunan ramalan secara ilmiah/matematik,
atas dasar pengumpulan data angka tersebut.
Dalam kamus ilmiah popular, kata statistic berarti table, grafik, dafatr
informasi, angka-angka, informasi. Sedangkan kata statistika berarti ilmu
tentang pengumpulan, analisis dan klasifikasi data angka sebagai dasar untuk
induksi.[9]
Jadi statistika merupakan sekumpulan
metode untuk membuat suatu keputusan yang bijaksana dalam keadaan yang tidak
mnentu.
Peran statistika
Statistika bukan merupakan
sekumpulan pengetahuan mengenai objek
tertentu, melainkan merupakan sekumpulan metode dalam memperoleh pengetahuan.
Penerapan statistika
Statistika biasanya d terapkan dalam
penelitian pasar,produksi, kebijaksanaan penanaman modal, control kualitas, sleksi pegawai, ramalan
ekonomi, dan masih banyak lagi yang lainnya. Contoh tentang berbagai penerapan statistika diatas
tidak mencakup semua hal, namun semoga contoh tersebut dapat memberikan
gambaran mengenai kemungkinan berbagai penerapan dari metode dan konsep statistika. Singkatnya
statistika adalah alat yang dapat digunakan
untuk memecahkan masalah yang timbul dalam penelaahan masalah secara
empiris hampir disemua bidang.[10]
4. LOGIKA
Logika berasal dari kata Yunani kuno
(logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata
dan dinyatakan dalam bahasa. Sebagai ilmu, logika disebut dengan logike
episteme (Latin: logica scientia) atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang
mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur. Ilmu
disini mengacu pada kemampuan rasional untuk mengetahui dan kecakapan mengacu
pada kesanggupan akal budi untuk mewujudkan pengetahuan ke dalam tindakan. Kata
logis yang dipergunakan tersebut bisa juga diartikan dengan masuk akal.
Nama ‘logika’ untuk pertama kali
muncul pada filsuf Cicero (abad ke-1 sebelum masehi), tetapi masih dalam arti
‘seni berdebat’. Alexander Aphrodisias (sekitar permulaan abad ke-3 sesudah
masehi) adalah orang yang pertama kali menggunakan kata ‘logika’ dalam arti
ilmu yang menyelidiki lurus tidaknya pemikiran kita.
Logika adalah sarana untuk berfikir
secara sistematis valid dan dapt di pertnggung
jawbkan. Karena itu berfikirlogis adalah berfikir sesuai dengan
aturan-aaturan berfikir, seperti setengah tidak boleh lebih besar dari pada
satu.
Memang sebagai perlengkapan
ontologisme, pikiran kita dapat bekerja secara spontan, alami , dan dapat
menyelesaikan fungsinya dengan baik, lebih-lebih dalah hal yang biasa dan
sederhana dan jelas. Namun , tidak demikian halnya bila menghadapi bahan yang
sulit, berliku-liku dan harus memrlukan
pemikiran panjang dan sulit sebelum mencapai sebuh kesimpulan. Nah, dalam
situasi seperti ini diperlukn danya ang formal, pengertian yang sadar akan
hokum-hukumnya, dan mekanismenya secara eksplisit. Maksudnya hokum-hukum
fikiran dapat digunakan beserta mekanisme dapat digunakan secara sadar dalam
mengontrol pikiran yang sulit dan panjang itu.
Macam-macam logika:
Logika alamiah adalah kinerja akal
budi manusia yang berpikir secara tepat dan lurus sebelum dipengaruhi oleh
keinginan-keinginan dan kecenderungan-kecenderungan yang subyektif. Kemampuan
logika alamiah manusia ada sejak lahir.
Logika ilmiah memperhalus, mempertajam pikiran
serta akal budi. Logika ilmiah menjadi ilmu khusus yang merumuskan azas-azas
yang harus ditepati dalam setiap pemikiran. Berkat pertolongan logika ilmiah
inilah akal budi dapat bekerja dengan lebih tepat, lebih teliti, lebih mudah
dan lebih aman. Logika ilmiah dimaksudkan untuk menghindarkan kesesatan atau,
paling tidak, dikurangi.
Cara-cara berfikir
logis dalam rangka mendapatkan pengetahuan baru yang benar:
Induksi adalah cara berfikir untuk menarik kesimpulan yang
bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual. Penalaran ini diawali
dari kenyataan-kenyataan yang bersifat khusus dan terbatas lalu diakhiri dengan
pernyataan yang bersifat umum.
Deduksi adalah cara berfikir
dari pernyataan yang bersifat umum menuju ke kesimpulan yang bersifat
khusus, dengan demikian kegiatan berfikir yang berlawanan dengan induksi.
Analogi adalah cara berfikir dengan cara membuktikan dengan hal yang serupa dan
sudah diketahui sebelumnya. Disini penyimpulan dilakukan secara tidak langsung,
tetapi dicari suatu media atau penghubung yang mempunyai persamaan dan
keserupaan dengan apa yang akan dibuktikan.
Komparasi adalah cara berfikir
dengan cara membandingkan dengan sesuatu yang mempunyai kesamaan apa yang
dipikirkan. Dasar pemikiran ini sama dengan analogi yaitu tidak langsung,
tetapi penekanan pemikirannya ditujukan pada kesepadanan bukan pada
perbedaannya.
Kegunaan logika
- Membantu setiap orang yang mempelajari logika untuk berpikir secara
rasional, kritis, lurus, tetap, tertib, metodis dan koheren.
- Meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat, dan objektif.
- Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan
mandiri.
- Memaksa dan mendorong orang untuk berpikir sendiri dengan menggunakan
asas-asas sistematis
C.
Hubungan antara sarana ilmiah bahasa, matematika, statistika, dan logika
Sebagaimana
telah di bahas sebelumnya, agar dapat
melkukan kegiatan ilmiah dengan baik,
maka diperlukan sarana yang berupa bahasa, matematika logika dan
statistika. Bahsa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh
proses berfikir ilmiah dimana bahasa merupakan alat berfikir dan alat komunikasi untuk
menyampaikan jalan fikiran tersebut kepada orang lain.[11][12]
Ditinjau
dari pola berfikirnya , maka ilmiah merupakan gabungan antara berfikir deduktif
dan berfikir induktif. Untuk itu, penalaran ilmiah menyadarkan diri kepada
proses logika deduktif dan logika induktif. Matematika mempunyai peranan
penting dalam berfikir deduktif, sedangkan statistika mempunyai peranan penting
dalam berfikir induktif.[13] Jadi keempat sarana ilmiah ini saling
berhubungan erat satu sama lain.
Bahasa
merupakan sarana komunikasi, maka segala sesuatu yang berkaitan dengan komunikasi
tidak terlepas dari bahasa, seperti berfikir sistematis dalam menggapai ilmu
dan pengetahuan. Dengan kata lain tanpa
menpunyai keterampilan berbahasa, maka seseorang tidak dapat melakukan kegiatan
ilmiah secara sistematis dan teratur.
Penalaran
merupakan suatu proses berfikir yang mebuahkan pengetahuan. Agar pengetahuan
yang berdasarkan penalaran itu mempunyai dasar kebenaran, maka proses berfikir
itu harus di lakukan dengan cara tertentu. Suatu peanrikan kesimpulan baru
dianggap valid kalau proses penarikan kesimpulan tersebut dilakukan menurut
cara tertentu. Cara penarikan kesimpulan ini disebut logika, dimana logika
dapat didefinisikan sebgai pengkajian untuk berfikir secara sahih. Terdapat
bermacam-macam cara penarikan kesimpulan, diantaranya penarikan kesimpulan
dengan cara logika induktif dan logika deduktif. Logika induktif erat kaitannya
dengan kasus kasus yang nyata menjadi kesimpulan umum. Sedangkan logika
deduktif membantu kita dalam menarik
suatu kesimpulan yang bersifat umum menjadi khusus yang bersifat indifidual.[14]
Penalaran
secara deduktif dimulai dengan
mengemukakan pernyataan-pernyataan yang terbatas untuk menyusun
argumentasi yang di akhiri dengan
pernyataan yang bersifat umum. Umpamanya
kita mempunyai fakta bahwa kerbau mempunyai mata, gajah mempunyai mata harimau
mempunyai mata, lembu memnyai mata. Dari kenytaan-kenyataan di atas kita
dapat menarik kesimpulan yang bersifat
umum bhwa semua binatang mempunyai mata. Ada dua keuntungan dari kesimpuln ini.
Pertama, bersifat ekonomis. Dan
keuntungan yang kedua, adalah memungkinkannya proses penalaran baik secara
indukstif maupun deduktif. Statistika mempunyai peranan yang penting dalam
berfikir induktif tersebut.
Deduksi adalah sebliknya, dimana pernyataan-prnyataan yang bersfat umum
ditarik kesimpilan yang bersifat khusus, menggunakan pola fikir yang di sebut
silogisismus. Pernyataanyang mendukung silogismus ini dinamakan premis yang
kemudian dibedakan menjadi premis mayor dan premis minor. Contohya semua mahluk
mempunyai mata(premis mayor) si polan adalah seorang mahluk (premis minor) jadi
si polan mempunyai mata (kesimpulan). Kesimpuan ni di tarik secara logis dari
dua premis yang mendukungnya. Matematiaka adalah pengetahuan yang di susun
secara deduktif. Mtematik juga merupkan
suatu bahasa yang melmbangkan serangkaian
makna dari pernyataan yang ingin di sampaikan.
PENUTUP
1. Berfikir merupakan ciri utama bagi manusia. Berfikir disebut juga sebagai proses bekerjanya akal. Secara garis besar berfikir dapat dibedakan antara berfikir alamiah dan berfikir ilmiah. Berfikir alamiah adalah pola penalaran yang berdasarkan kehidupan sehari-hari dari pengaruh alam sekelilingnya. Berfikir ilmiah adalah pola penalaran berdasarkan sarana tertentu secara teratur dan cermat.
1. Berfikir merupakan ciri utama bagi manusia. Berfikir disebut juga sebagai proses bekerjanya akal. Secara garis besar berfikir dapat dibedakan antara berfikir alamiah dan berfikir ilmiah. Berfikir alamiah adalah pola penalaran yang berdasarkan kehidupan sehari-hari dari pengaruh alam sekelilingnya. Berfikir ilmiah adalah pola penalaran berdasarkan sarana tertentu secara teratur dan cermat.
2. Bagi seorang ilmuan
penguasaan sarana berfikir ilmiah merupakan suatu keharusan, karena tanpa
adanya penguasaan sarana ilmiah, maka tidak akan dapat melaksanakan kegiatan
ilmiah dengan baik. Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat untuk membantu
kegiatan ilmiah dengan berbagai langkah yang harus ditempuh.
3. Sarana berfikir
ilmiah pada dasarnya ada tiga, yaitu : Bahasa ilmiah, Logika dan Matematika,
Logika dan Statistika. Bahasa ilmiah berfungsi sebagai alat komunikasi untuk
menyampaikan jalan fikiran seluruh proses berfikir ilmiah. Logika dan
matematika mempunyai peranan penting dalam berfikir deduktif sehingga mudah
diikuti dan mudah dilacak kembali kebenarannya. Sedang logika dan statistika
mempunyai peranan penting dalam berfikir induktif dan mencari konsep-konsep
yang berlaku umum. Namun dizaman sekarang komputer jaga bisa dimasukan sebagai
sarana berfikir ilmiah, karena dalam komputer semua ada, dan apa yang kita
inginkan hmapir seluruhnya dapat dijawab oleh komputer.
Daftar pustaka
Bakhtiar Amsal, ‘’filsafat Ilmu’’,
PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta:2011)
Jujun
suriansumantri, ‘’ Pilsafat ilmu sebuah pengantar populer’’ Pustaka Sinar
Harapan, Jakarta:2010).
John G.Kemeny, A Philosoper Looks at
Saince (New York: van Nostrand, 1959).
Mohammad Adib, ‘’filsafat Ilmu’’
pustaka Pelajar : 2011.
Burhanuddin salam, ‘’logika materi
filsafat ilmu pengetahuan’’ Jakarta: PT. Rineka Cipta. 1997).
Beerling, Pengantar ilmu Filsafat’’
(Ttp, Tiara Wacana, 1998).
Tim dosen Filsafat Ilmu UGM, Filsafat
Ilmu, (Yogyakarta: Liberty Yogyakarta,tth).
Anas Sudijono, Pengantar Statistik
Pndidikan’’( Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1996).
Phillip E.B. Jourdain, the nature Of
Matematics’’ The World of Matematics : Vol. ed. by Jams R. Newman (New York :
Simon & Schutter,1956).
Warisman, edy. N.W. ‘’Filsafat Induk
Segala Ilmu, copas from Internet wara'’’ ( dema press, Makassar: 1993 )
[1]
Phillip E.B. Jourdain, the nature Of Matematics’’ The World of Matematics :
Vol. ed. by Jams R. Newman (New York : Simon & Schutter,1956), h.9.
[2]
John G.Kemeny, A Philosoper Looks at Saince (New York: van Nostrand, 1959), h.10.
[3]
Jujun suriansumantri, ‘’ Pilsafat ilmu sebuah pengantar populer’’ Pustaka Sinar
Harapan, Jakarta:2010, h.169.
[4]
Mohammad Adib, ‘’filsafat Ilmu’’ pustaka Pelajar : 2011, h.131
[5]
Bakhtiar Amsal, ‘’filsafat Ilmu’’, PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta:2011)
h.180.
[6]
Burhanuddin salam, ‘’logika materi filsafat ilmu pengetahuan’’ Jakarta: PT.
Rineka Cipta. 1997) h.133-134
[7]
Beerling, Pengantar ilmu Filsafat’’ (Ttp, Tiara Wacana, 1998) h.23.
[8]
Tim dosen Filsafat Ilmu UGM, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Liberty Yogyakarta,tth),
h.78.
[9]
Anas Sudijono, Pengantar Statistik Pndidikan’’( Raja Grafindo Persada, Jakarta,
1996), h.2-4.
[10]
Bakhtiar Amsal, ‘’filsafat Ilmu’’, PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta:2011)
h.212
[11] Jujun suriansumantri, ‘’ Pilsafat ilmu sebuah
pengantar populer’’ Pustaka Sinar Harapan, Jakarta:2010,
[12]
Ibid h.167
[13]
ibid
[14]
Ibid, h.46-48.